JURNAL A' Qur'an dan Al Hadits

Kurikulum Pembelajaran Al Qur’an dan Al Hadits di Sekolah


Retno Winahyu Kesumasari
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
E-mail: retnowinahyu30@gmail.com


Abstrak
Tujuan pendidikan yang ada di Indonesia adalah seperti yang sudah diterangkan pada Pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945, yaitu salah satunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Serta di dalamnya dapat mengembangkan manusia seutuhnya yaitu menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Peran Kurikulum Pembelajaran Al Qur’an dan Al Hadits di Sekolah ini sangat penting salah satunya yang terjadi di dalam suatu proses pembelajaran di sekolah atau madrasah-madrasah yang memiliki dasar agama yang kuat di dalamnya. Contohnya MI, MTS, MA dan perguruan-perguruan negeri serta swasta yang memiliki dasar agama islam. Jadi jelas bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya membekali kepandaian belaka, dalam arti penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus memilik keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Imtaq), sehingga tidak terjebak kepada sifat duniawi dan kebendaan saja. Kurikulum merupakan program yang tersusun secara terpadu mengenai suatu rencana pendidikan, dimana didalamnya menjelaskan mengenai pedoman tentang jenis, lingkup, cara dan proses pendidikan. Selain itu di dalam kurikulum juga berisi mengenai seperangkat rencana, peraturan, mengenai isi dan bahan pelajaran serta metode ataupun model yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang dijadikan pedoman untuk mencapai suatu tujuan tertentu dari pendidikan itu sendiri. Kurikulum sendiri memiliki peran yang sangat penting bagi pendidikan, karena didalamnya terdapat beberapa pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan. Herbert M.Kliebard dalam jurnalnya mengatakan bahwa pembuat kurikulum harus memberikan perhatian tentang bagaimana peserta didik diajar, tidak hanya apa yang harus diajarkan saja tapi apa peraturan yang dapat memerintah dalam mengajar peserta didik. Jadi kurikulum tidak hanya berisikan tentang apa apa saja yang harus diajarkan tentapi bagaimana mengajarkan peserta didik.  Kehadiran Kurikulum Al Qur’an dan Hadis di lingkungan sekolah adalah salah satu peran yang terpenting dalam meningkatkan kualitas peserta didik di lingkungan sekolah. Karena dengan Al Qur’an dan Al Hadits menjadikan suatu rencana dalam proses pembelajaran dapat terkendalikan dengan baik, yang didalamnya sudah pasti terdapat dasar atau pedoman ditujukan untuk Allah SWT.
Kata Kunci: Kurikulum, Qur’an dan Hadis, Pendidikan, Pendidik

Abstract
The purpose of education in Indonesia is, as already described in the Preamble of the Constitution of 1945, which is one of the nation living. Therein as well as to develop the whole man is made man faithful and devoted to God Almighty and noble character, knowledge and skills, physical and spiritual health, steady and independent personality, and a sense of civic responsibility and nationality. Role of Curriculum Qur'an and Hadith in school is a very important one that occurs in a learning process in schools or madrasas which have strong religious base therein. For example MI, MTS, MA and universities as well as private land that has a basic religion of Islam. So it is clear that education in Indonesia is not only equip mere cleverness, in the sense of mastery of science and technology, but also have to choose a faith and devotion to God Almighty (IMTAQ), so it does not get stuck to the worldliness and materialism alone. The curriculum is structured in an integrated program on an education plan, in which describes the guidelines about the type, scope, manner and process of education. Also in the curriculum also contains a set of plans, regulations on the content and teaching materials and methods or models used in the administration of learning activities that make the guidelines to achieve a particular purpose of education itself. The curriculum itself has a very important role for education, for which there are few guidelines in education. Herbert M.Kliebard in his journal says that the makers of the curriculum should focus on how students are taught, not only what should be taught course but what rules and regulations that govern the teaching of learners. So the curriculum not only contain anything about what should be taught how to teach learners . The presence of the Qur'an and Hadith curriculum in the school environment is one of the most important role in improving the quality of students in the school environment. Due to the Qur'an and Hadith make a plan in the learning process can runaway well, which is certainly present inside the base or guidelines intended to Allah SWT.
Keywords: The curriculum, the Qur'an and the Hadith, Education, Educators

A.           Pendahuluan
Hidup di Era Globlalisasi sangat mempengaruhi mutu banding kehidupan manusia sekarang dan dimasa dahulu. Bagaimana tidak, karena semua sudah menjadi suatu pengaruh besar dalam lingkungan masyarakat yang biasa disebut moderen.[1] Menurut Peter F. Beyer, dalam pengaruh globlalisasi ini agama di dalamnya mengalami “privatisasi agama” (privatization of religion), yang melahirkan manusi-manusia individualis yang akan cenderung akan menggeser posisi agama sebagai alternatif bukan sebagai sistem nilai yang dianut masyarakatnya.[2] Berbeda dengan apa yang dikemukakan Beye, Peter L. Berger, berpandangan dalam tantangan globlalisasi agama akan mengalami kemunduran dalam aspek sosial, tetapi juga menyebabkan adanya tekanan dalam pengembangan subsistem secara institusional, sehingga agama memiliki eksistensi tersendiri.[3]
Al-Quran adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin dasyat. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah, Muhammad Saw untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap (jahiliyah) menuju yang terang yaitu agama Islam yang rahmatan lil`alamin dan membimbing mereka kejalan yang lurus. Disinilah, diri Rasulullah SAW menyampaikan isi kandungan Quran itu kepada para Sahabatnya dan orang-orang Arab asli, sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri bangsa mereka sendiri. Apabila mereka menemukan keraguan dan ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, maka mereka dapat menanyakannya langsung kepada diri Rasulullah SAW.[4]

B.            Menggali Tentang Al Qur’an dan Hadits
Allah menurunkan Al Qur’an sebagai pedoman serta petunjuk manusia untuk menerangi, mengarahkan kehidupan manusia agar senang tiasa lurus serta sejalan dengan apa yang sudah diperintahkan Allah SWT. Di dalam Al Qur’an sudah terdapat petunjuk bagaimana cara manusia menjalankan kehidupan di dunia serta di akhirat. Manusia menjalankan kehidupan di dunia untuk memenuhi kebutuhan di akhirat kelak. Karena bawasannya kehidupan di dunia hanyalah sementara. Kehidupan di dunia itu fana, yang abadi hakikatnya hanya di Akhirat. Maka sebagai manusia yang mengerti akan kehidupan dunia yang hanya sementara, manusia harus memperbaiki diri dan menghindari sikap-sikap yang mengarahkan pada perilaku buruk. Perilaku buruk hanya kebohongan yang dilakukan setan untuk menyesatkan manusia agar manusia mengikuti serta menjalankan segala sesuatu ajakkan setan. Apabila kita mengamalkan Al Qur’an pada kehidupan sehari-hari ingsyaallah Allah yang selalu menjaga Al Qur’an, menjaga manusia, serta yang menjaga segala sesuatu yag diciptakan-Nya akan mengarahkan pada jalan kebenaran.
Tetapi yang menjadi persoalannya ialah kita umat Islam yang sudah jauh masanya dengan Nabi dan tidak memahami bahasa Arab dengan baik, seperti bangsa kita Indonesia. Disamping itu maukah dan mampukah seseorang membaca memahami, menganalisa dan menggali isi kandungan yang ada dalam Qur`an? Disamping itu kalau ingin mendalami isi kandungan Qur`an dengan baik, maka seharusnya seseorang memahami dahulu apa itu Qur`an bagaimana sejarahnya dan mengapa Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur dan aspek penting lainnya yang memang harus dipahami lebih mendalam.[5]
Wahyu Allah secara terminologi atau (syara`) adalah: Kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi. Berikutnya ustadz Muhammad Abduh memberikan definisi wahyu dalam Risalatut Tauhid sebagai berikut: Pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik melalui perantara atau tidak, yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Di sini beda antara wahyu dengan ilham. Ilham adalah intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Seperti rasa lapar, haus, sedih dan senang. Sedangkan wahyu adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi atau Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umatnya.[6]
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan bathin. Didalamnya terdapat berbagai petunjuk ideal tentang bagaimana seharusnya menjalankan hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dan berdampak pada kebaikan untuk alam semesta (rahmatan li al ‘ala-min). Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengem-bangan ilmu pengetahuan dan tek-nologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, ber-orientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti feodalistik, mencintai kebersihan, menguntamakan persau-daraan, berakhlak mulia dan sikap-sikap positif lainnya.[7]
Terjadinya kesenjangan cita ideal Islam dengan kenyataan dalam kehidupan, telah menarik perhatian banyak ahli untuk mencoba mencari penyebabnya. Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam bukunya Islam dan Masalah Kenegaraan, mengemukakan bahwa, kualitas keagamaan umat yang masih rendah adalah penyebab terja-dinya kesenjangan itu. Menurutnya bahwa proses Islamisasi sesungguhnya secara kualitatif belum pernah mencapai tingkatnya yang sempurna. Islam sebegitu jauh belum lagi mampu menggantikan sepenuhnya kepercayaan-kepercayaan dan tradisitradisi cultural lokal sebagi basis bagi organisasi sosial.
“Dari Usman ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: (muslim) yang baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada orang lain”. (HR. Bukhari).
Dari Hadits tersebut dinyatakan betapa mulianya akhlak seseorang ketika dia dapat mempelajari Al Quran dengan baik, kemudian dia mengajarkan kepada orang lain. Dengan demikian dia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah dan mendapat kehormatan dari manusia dimuka bumi ini. Hakikat diturunkannya Al-Qur‟an adalah menjadi acuan moral secara universal bagi umat manusia untuk memecahkan problema sosial yang timbul di tengah-tengah masyarakat.,Hadits sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan (bayan) keumuman isi suatu persoalan bila hukumnya tidak dapat di dalam Al-Qur‟an. Proses pembelajaran yang efektif dan efisien merupakan hal yang penting bagi siswa untuk memperoleh hasil yang baik, seperti yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik “Cara belajar yang efektif dan efisien adalah cara belajar yang tepat, praktis, ekonomis, terarah, sesuai dengan kondisi situasi dan tuntutan guna tercapai tujuan belajar”. Kegiatan pembelajaran yang di lakukan di arahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan.” Dalam proses pembelajaran itu terdiri dari tiga komponen yaitu: pengajar, siswa dan bahan ajar.” Peran pengajar sangat penting karena dia berfungsi sebagai komunikator.
Dalam pembelajaran, guru harus banyak menggunakan strategi dan media agar siswa dapat belajar efektif, efisien dan mengarah pada tujuan yang di harapkan.Memilih dan mengatur strategi yang tepat dapat memperlancar tercapainya tujuan pembelajaran.[8]
Hadits ada pada perkataan dan perilaku Rasulullah, Beberapa ahli menyatakan bahwa pemisahan antara agama dan sains disebabkan diferensiasi antara iman lawan akal; agama berdasarkan nilai sementara sains berdasarkan fakta; agama subyektif dan sains obyektif; agama tak dapat dipalsukan sedang sains dapat dipalsukan; bahasa agama memakai bahasa untuk melukiskan emosi, harapan, dan kepercayaan tetapi bahasa sains menggunakan bahasa ilmiah yang mengacu pada gambaran tentang dunia. Karl Barth menyatakan beberapa hal tentang pandangan independensi ini, yang dikutip oleh Ian G. Barbour, bahwa menurutnya, tuhan adalah transendensi yang berbeda dari yang lain dan tidak dapat diketahui kecuali melalui penyingkapan diri, keyakinan agama sepenuhnya bergantung pada kehendak tuhan, bukan atas penemuan manusia sebagaimana halnya sains, ilmuwan bebas menjalankan aktivitas mereka tanpa keterlibatan unsur teologi, demikian pula sebaliknya karena metode dan pokok persoalan keduanya berbeda, agama dibangun atas dasar wahyu ilahi sedangkan sains dibangun atas pengamatan dan penalaran manusia, untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut maka kurikulum disusun dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan disesuaikan dengan lingkungan; kebutuhan pembangunan nasional; perkem-bangan ilmu pengetahuan, teknonologi, dan kesenian; serta sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.
Penafsiran saintifik (tafsir ilmi) ini dipahami berdasarkan asumsi bahwa seluruh macam penemuan ilmu-ilmu modern telah diantisipasi dalam al-Qur’an dan bahwa banyak referensi-referensi yang jelas terhadap temuan-temuan tersebut dapat ditemukan dalam ayat-ayat Al Qur’an. Temuan-temuan saintifik yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Al Qur’an terjadi mulai dari kosmologi Copernicus hingga kandungan-kandungan listrik, mulai dari keteraturan reaksi-reaksi kimia hingga bakteri-bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Representasi tafsir ilmi yang paling terkenal pada awal abad ke -20 adalah Syeikh Mesir. Karya tafsir ini merupakan survey ensiklopedik tentang ilmu-ilmu modern atau lebih tepatnya lagi tentang hal-hal yang diklasifikasikan olehnya ke dalam ilmu pengetahuan modern. Jauhari mengklaim bahwa ilmu-ilmu ini telah disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an tertentu yang ia jadikan dasar bagi eksposisi-eksposisi tentang topik yang dibahas.[9]
Ada hubungan antara Agama dan Sains, tetapi tidak ada keterkaitan antara keduanya. Bahwasannya Sains didapat dari ilmunya Allah SWT. Sains hanya didapat dari manusia dengan mempelajari ilmunya Allah. Dengan melihat apa-apa yang ada disekitarnya dan apa-apa yang di ciptakan oleh Allah SWT. Dengan ilmu Sains manusia melihat adanya dunia ni melalui reaksi-reaksi biologis yang kemudian membentuk suatu kehidupan. Sama yang ada di dalam Al Qur’an. Dasar Sains telah ada di dalam Al Qur’an terlebih dahulu. Baru manusia mempelajari kemudian mengamati dengan fikiran (akal) yang sudah diberikan oleh Allah Al-Qur’an dan Hadits bagi umat Islam merupakan dua hal yang sangat penting. Keduanya menjadi standar baku yang dijadikan acuan dalam menjalani kehidupanumat manusia di dunia. Bahkan Al-Qur’an menyifati dirinya sebagai huda lin naas, petunjuk bagi umat manusia. Sedangkan hadits merupakan penjelasan lebih rinci dalam menegaskan isi pokok Al-Qur’an. Upaya untuk memperkenalkan Al-Qur’an dan Hadits sejak dini menjadi hal yang sangat penting. Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits diarahkan untuk menumbuh kembangkan pengetahuan peserta didik terhadap Al-Qur’an dan Hadits, sehingga memperoleh pengetahuan mengenai keduanya dengan baik dan benar. Mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits di Madrasah Ibtidaiyah adalah salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan membaca dan menulis Al- Qur’an dan Hadits dengan benar, serta hafalan terhadap surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, pengenalan arti atau makna secara sederhana dari surat-surat pendek tersebut dan hadits-hadits tentang akhlak terpuji untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan dan pembiasaan.
Adanya penyatuan ilmu-ilmu sosial begitu pula ilmu ilmu alam dan teks keagamaan pada dasarnya diharapkan dapat menciptakan solusi bagi problem kekinian sekaligus menyelesaikan masalah-masalah yang mungkin menghinggapi bunyi-bunyi teks yang bersangkutan.Teks al-Qur’an maupun hadis, meskipun berasal dari Tuhan dan Nabi Muhammad sebagai pembuat syariat,tetapi patut disadari bahwaaudensinya adalah manusia, sehingga manusia mempunyai peran dalamproses interpretasi kedua sumber ajaran itu. Dengan demikian, paradigma yang diusung di sini bukan lagi sekedar teosentris, yaitu pengetahuan yang berasal pada Tuhan semata, tetapi lebih padaparadigma teo-antroposentris yang merupakan penggabungan dua dimensi pengetahuan yang berbeda, yaitu dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Penggabungan dimensi kemanusiaan dan ketuhanan, yang dalam konteks tulisan ini lebih dikhususkan pada integrasi ilmu-ilmu sosial dan hadis,pada hakikatnya merupakan spesifikasi dari proyek besar integrasi agama dan ilmu. Proyek besar keilmuan ini bertujuan untuk menggambarkan bahwa dalam Islam tidak adadikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.Keduanya tidak boleh berdiri sendiri secara terpisah (separated), tetapi harus berintegrasi dan secara bersamasama memecahkan persoalan umat secara komprehensif.Untuk itu, sekat-sekat penghalang yang mengganjal bertemunya keilmuan agama dan umum harus dimusnahkan. Secara lebih spesifik dalam konteks kajian hadis, meskipun sama-sama memuat dimensi ketuhanan karena memuatunsur wahyu Tuhan tetapi disadari bahwa hadis memang berbeda dengan al-Qur’an. Bila ditimbang-timbang antara kedua sumber ajaran Islam ini, kemanusiaan dalam hadis Nabi sangat terasa dibandingkan dengan Al Qur’an. Apabila ditelaah dari sisi sumber misalnya, al-Qur’an merupakan murni wahyu Tuhan secara total melalui malaikat Jibril tanpa adanya intervensi Nabi sedikitpun, sedangkan hadis sebagian bersumberdari wahyu Tuhan atau ijtihad pribadi atas bimbingan wahyu dan sebagian lagi berdasarkan sisi kemanusiaan Nabi. Inilah yang barangkali menjadi alasan kuat integrasi ilmu-ilmu sosial dan hadis Nabi lebih pantas didahulukan daripada al-Qur’an, dengan tanpa mengurangi urgensitas al-Qur’an sebagai sumber pertama, sebab hadis lebih terasa kental dengan aspek kemanusiaannya. Terlepas dari perdebatan definisi di atas, hadis sendiri merupakan sumber otentik perjalanan hidup Nabi yang direkam dalam berbagai kitab hadis, baik yang berstatus kanonik maupun non-kanonik. Tidak absah seorang muslim yang ingin mengetahui lika-liku kehidupan Nabi tanpa menengok hadis-hadis yang bertebaran dalam kitab-kitab hadis. Meskipun demikian, kronologi perjalanan hadis sebenarnya memakan waktu yang begitu panjang, kira-kira dua abad lamanya. Periwayat generasi pertama dari kalangan sahabat mentransmisikan suatu matan (konten) hadis kepada generasi selanjutnya dari komunitas tabi’in. Generasi tabi’in kemudian mentransmisikan matan tersebut pada generasi selanjutnya dari kalangan tabi’ut tabi’in, dan begitu seterusnya hingga sampai pada masa para mukharrij (kolektor) hadis, seperti Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.[10]
Perubahan kurikulum harus disesuaikan dengan asas-asas yang mendasari kurikulum tersebut, yaitu: (a) asas filosofis, (b) asas psikologis, (c) asas sosiologis, (d) asas organisatoris.[11] Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan Hadits. Melalui kegiatan bimbingan peng-ajaran, latihan serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain.

C.           Keutamaan dalam Mempelajari Al Qur’an dan Mempelajari Al Qur’an dan Hadits
Tujuan kita hidup didunia adalah semata-mata hanyalah karena Allah dan untuk Allah, maka apabila kita melakukan segala sesuatu itu karena Allah, hasil yang kita peroleh akan datangnya dari Allah pula,
¨bÎ) tûïÏ%©!$# šcqè=÷Gtƒ |=»tGÏ. «!$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qà)xÿRr&ur $£JÏB öNßg»uZø%yu #uŽÅ  ZpuŠÏRŸxtãur šcqã_ötƒ Zot»pgÏB `©9 uqç7s? ÇËÒÈ  
29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
óOßguŠÏjùuqãÏ9 öNèduqã_é& NèdyƒÌtƒur `ÏiB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù 4 ¼çm¯RÎ) Öqàÿxî Öqà6x© ÇÌÉÈ
30. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri[1259].
[1259] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Qur’an seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Qur’an itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Qur’an itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Qur’an diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad SAW. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Qur’an itu.

D.           Peranan Kurikulum dalam Penerapan di Sekolah
Di dalam kurikulum terdapat seperangkat rencana dan alat untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal 39 UUSPN 1989 disebutkan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat: (a) pendidikan Pancasila, (b) pendidikan agama, dan (c) pendidikan kewarganegaraan. Sedangkan isi kurikulum pendidikan dasar memuat sekurang-kurangnya bahan kajian dan pelajaran; (a) pendidikan Pancasila; (b) pendidikan agama; (c) pendidikan kewarganegaraan; (d) bahasa Indo-nesia; (e) membaca dan menulis; (f) matematika (termasuk berhitung); (g) pengantar sains dan teknologi; (h) ilmu bumi; (i) sejarah nasional dan sejarah umum; (j) kerajinan tangan dan kesenian; (k) pendidikan jasmani dan kese-hatan; (l) menggambar; dan (m) bahasa Inggris.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232 u/2000 tanggal 20 Desember menetapkan Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi Penilaian Hasil Belajar Maha-siswa yang menjadi dasar penyeleng-garaan program studi di perguruan tinggi terdiri atas kurikulum inti dan kurikulum institusional (pasal 7:1) Kurikulum inti merupakan kelompok bahan kajian dan pelajaran yang harus dicakup dalam suatu program studi yang dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku secara nasional (pasal 7:2). Kurikulum inti terdiri atas kelompok matakuliah pengembangan kepribadian. Kelompok matakuliah yang bercirikan tujuan pendidikan dalam bentuk penciri ilmu pengetahuan dan keterampilan, keahlian berkarya, sikap berperilaku dalam berkarya, dan cara berkehidupan bermasyarakat, sebagai persyaratan minimal yang harus dicapai peserta didik dalam penyelesaian suatu program studi (pasal 7:3).
Selanjutnya, tentang kurikulum inti telah ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK). MPK merupakan kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. MPK termasuk dalam kurikulum inti yang harus dirancang berbasis kom-petensi dan berfungsi sebagai dasar pembentukan kompetensi program studi.
Perubahan paradigma dalam falsafah serta metodologi proses pembel-ajaran, sejak tahun 2002-2003 diberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) bagi seluruh program studi di Perguruan Tinggi Indonesia. KBK menekankan ke-jelasan hasil didik sebagai seseorang yang kompeten dalam hal: (1) Menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan tertentu;(2) Menguasai penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam bentuk kekaryaan; (3) Menguasai sikap berkarya, dan (4) Menguasasi hakekat dan kemampuan dalam berkehidupan bermasyarakat dengan pilihan kekaryaan.
Berbekal kompetensi ini diharapkan lulusan perguruan tinggi mampu menjadikan bekal pendidikan yang diperolehnya sebagai a method of inquiry dalam memerankan dirinya sebagai pencerah masyarakat, berkehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kaitannya dengan proses pendidikan tinggi, proses pembel-ajaran berubah dari semula bersifat “menjadikan” seseorang sebagai human invesment pembangunan, men-jadi “mengantarkan” seseorang sebagai intellectual capital dalam dimensi keperanan sebagai : (1) human capital, (2) structural capital, dan (3) relational capital atau customer capital. Intellectual capital tersebut bagi seseorang akan ditemukan dan dimantapkan melalui proses belajar sepanjang hayat (continuing education atau life longeducation) yang berwujud a method of inquiry yang bersifat dinamis progresif. (Suprodjo Pusposutardjo, dalam Kata Pengantar MAPP MPK (2002).[12]
Kurikulum yang ada pada pendidikan sekolah menurut Hamzah (2008) mengalami stagnasi, statis, dan berorientasi pada materialitas. Stagnasi terlihat dari adopsi dan replikasi kurikulum pendidikan sekolah. Nuansa hegemoni pada dunia pendidikan sekolah terasa mengental, bahkan menuju ke arah status quo kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah telah mengalami perubahan, pengurangan, dan penambahan muatan materi, akan tetapi sekolah tidak melakukan perubahan kurikulum atau mengalami stagnasi kurikulum yang berkelanjutan.
Lebih lanjut Hamzah (2008) berpendapat kenyamanan karena adanya hegemoni tersebut membuat pola pikir dan arah nalar para pendidik dan peserta didik terpasung dalam pendidikan yang menjerumuskan bukannya pendidikan yang membebaskan. Untuk itu, internalisasi sikap, perilaku, dan tindakan kritis pada kurikulum pendidikan sekolah perlu dilakukan. Hal ini ditunjukkan dengan melakukan kajian kritis pada setiap adopsi dan replikasi kurikulum yang digunakan oleh sekolah. Adanya pemasungan kreativitas pada kurikulum tersebut mengakibatkan terhambatnya daya inovasi, inspirasi, dan imajinasi sekaligus menumpulkan intuisi dalam pengembangan pendidikan sekolah. Keterjebakan kurikulum pendidikan sekolah pada stagnasi dan statis menurut Hamzah (2008) menjadi dilematis dengan mengarahkannya kepada materialitas. Nilai mentalitas, seperti kejujuran, keadilan, kasih, dan sayang masih belum nampak di dalam kurikulum pendidikan sekolah.
Hal ini dipertegas oleh Topatimasang dan Fakih (2007) yang menyatakan kurikulum pendidikan sekolah cenderung menafikan nilai mentalitas, tetapi mengutamakan nilai materialitas. Keseimbangan muatan kurikulum pada nilai materialitas dan mentalitas berjalan berat sebelah. Strategi balanced scorecard yang diajarkan pada intinya dimuarakan pada kepentingan materialitas bukan pada keseimbangan antara materialitas dan mentalitas. Hal ini dapat mengakibatkan keluaran dari pendidikan sekolah adalah insan-insan yang materilitas dan distigma.
Oleh karena itu strategi pembelajaran pada pendidikan sekolah harus diberi fondasi terlebih dahulu dengan internalisasi sosiologi kritis, inovasi, kreativitas, dan mentalitas (Agger, 2006). Hal ini tidak berhenti pada fondasi saja, tetapi juga diupayakan merasuki kurikulum yang ada pendidikan sekolah.[13]
Kehidupan dan peradaban manusia senantiasa mengalami perubahan. Dalam merespon fenomena itu, manusia berpacu mengembangkan kualitas pendidikan, salah satunya melalui penyempurnaan kurikulum. Kualitas pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan mampu bersaing. Dalam konteks madrasah, agar lulusannya memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif, maka kurikulum Madrasah perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi dan tingkat satuan pendidikan. Hal ini dilakukan agar madrasah secara kelembagaan dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta tuntutan desentralisasi. Dengan cara seperti itu, Madrasah tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya. Selanjutnya basis kompetensi yang dikembangkan di Madrasah harus menjamin pertumbuhan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, penguasaan ketrampilan hidup, penguasaan kemampuan akademik, seni, dan pengembangan kepribadian yang paripurna. Dengan petimbangan ini, maka disusun kurikulum nasional Pendidikan Agama di Madrasah yang berbasis kompetensi dasar dan standar kompetensi yang mencerminkan kebutuhan keberagaman peserta didik Madrasah secara nasional. Standar ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum Al-Qur’an Hadits di Madrasah sesuai dengan kebutuhan daerah / Madrasah. Oleh karena itu, peranan dan efektifitas pendidikan agama di Madrasah sebagai landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat mutlak harus ditingkatkan, karena asumsinya adalah jika pendidikan agama (yang meliputi Al-Qur’an dan Hadits, Aqidah dan Akhlaq, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam) yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik.
Pendidikan Al-Qur’an dan Hadits di Madrasah Ibtidaiyah sebagai landasan yang integral dari pendidikan Agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik, tetapi secara substansial mata pelajaran Al Qur’an dan Hadits memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai keyakinan kegamaan (tauhid) dan Ahlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits adalah bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada Madrasah Ibtidaiyah yang dimaksudkan untuk memberikan motivasi, bimbingan, pemahaman, kemampuan dan penghayatan terhadap isi yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits sehingga dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sebagai perwujudan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Sesuai dengan kerangka pikir di atas, kurikulum Al-Qur’an dan Hadits Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) dikembangkan dengan pendekatan sebagai berikut , lebih menitik beratkan target kompetensi dari penguasaan materi, lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia, memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan dilapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.
Kurikulum Al-Qur’an dan Hadits MI yang dikembangkan dengan pendekatan tersebut diharapkan mampu menjamin pertumbuhan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, peningkatan penguasaan kecakapan hidup, kemampuan bekerja dan bersikap ilmiah sekaligus menjamin pengembangan kepribadian Indonesia yang kuat dan berakhlaq mulia. Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum Al-Qur’an Hadits disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, belajar untuk memahami dan menghayati, belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Hadits, Akidah-Akhlak, Fikih, SKI dan Bahasa Arab.
Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan dua unsur utama yang menjadi acuan dalam penyusunan KTSP. Standar kompetensi lulusan menjadi rujukan dan pedoman penilaian yang menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Kompetensi lulusan untuk mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits menekankan pada kemampuan melafalkan, membaca, menulis, menghafal, mengartikan, dan memahami yang selaras dengan jenjang pendidikan. Kompetensi lulusan mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Pendidikan dasar, yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs/SMPLB/Paket B bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Kemampuan-kemampuan dasar umum yang harus dimiliki peserta didik sebagai Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) Madrasah Ibtidaiyah secara rinci, menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak, mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri, mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya, menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongann sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya, menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif, menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik, menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya, menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar, menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan, menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia, menunjukkan kemampuan untuk kegiatan seni dan bidaya lokal, menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang, berkomunikasi secara jelas dan santun, bekerja sama dalam kelompok, tolong menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya, menunjukkan kegemaran membaca dan menulis, menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.
Mata pelajaran Al-Qur’an-Hadits merupakan bagian dari Kelompok Mata Pelajaran (KMP) Agama dan Akhlak Mulia. Standar kompetensi kelompok mata pelajaran (SK-KMP) Agama dan Akhlak Mulia itu menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak, menunjukkan sikap jujur dan adil, mengenal keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya, berkomunikasi secara santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan, penunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya, penunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

E.            PENUTUP
Sebelum diterapkannya kurikulum 2013 pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Al-Qur.an Hadits cenderung monoton dan peserta didik tidak begitu aktif dalam proses belajar mengajar di kelas, serta peserta didik hanya mendengarkan materi dari yang disampaikan guru saja. Tetapi, setelah dilakukan penerapan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik kurikulum 2013 siswa terlihat begitu aktif dan semangat dalam proses belajar mengajar seperti aktif dalam bertanya dan menjawab serta peserta didik tidak hanya mendengarkan materi dari guru saja, namun juga mencari materi/informasi dari berbagai sumber lain yang tersedia. Dengan diberlakukannya pendekatan saintifik kurikulum 2013 ini menjadikan siswa lebih aktif dan mandiri dalam belajar. Penjambaran visi dan misi seba-gaimana diatas diturunkan kedalam rumusan tujuan umum Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk perguruan tinggi pada program studi umum (non agama) dengan mempertimbangkan orientasi pembelajaran di perguruan tinggi agar para mahasiswa dapat berbicara pada tingkat wawasan yang bertujuan pada peningkatan penalaran yang analitis, komparatif dan bila perlu melahirkan keputusan-keputusan baru yang bersifat preskriptif bagi tindakan kaum muslim di zaman kini. Setidaknya ada tiga pendekatan yang dapat dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan pendidikan Agama Islam. Pertama, mempelajari Islam untuk kepentingan mengetahui Kurikulum Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam bagaimana cara beragama yang benar. Hal ini lebih menekankan aspek reli-giusitas dan spiritualitas yang meng-internalisasi kedalam diri pribadi-pribadi dalam melakukan aktivitas keseharianya. Kedua, mempelajari Islam sebagi sebuah pengetahuan. Dan ketiga, upaya gerakan kembali pada al-Qur’an dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan multi disiflier. Tujuan Pendidikan Islam ialah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Karena itu pendidikan Islam berarti juga pemben-tukan manusia yang bertaqwa.
Pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah menggunakan sistem paket dimana semua peserta didik diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan MI. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran. Beban belajar dalam satuan waktu yang diperlukan peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran diberikan melalui sistem tatap muka (kegiatan pembelajaran melalui interaksi antara peserta didik dan pendidik), penugasan terstruktur (kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi bagi peserta didik untuk mencapai SK dan ditentukan waktunya oleh pendidik), dan kegiatan mandiri yang tidak terstruktur (kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi bagi peserta didik untuk mencapai SK yang dirancang pendidik dengan waktu yang diatur sendiri oleh peserta didik).[14]
Pendidikan Agama Islam yang diajarkan pada mahasiswa bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan maha-siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang bertaqwa, berakhlak dan memiliki sikap kepribadian yang cakap, demok-ratis dan bertanggung jawab. Sedangkan tujuan secara spesifik diurmuskan pada uraian pokok-pokok materi pembelajaran Pendidikan Aga-ma Islam.
Kompetensi MPK Pendidikan Agama Islam Kompetensi MPK Pendidikan Agama Islam untuk perguruan tinggi umum yang dijadikan pegangan kompetensi Pendidikan Agama Islam pada Fakultas non Agama di UNISMA, membimbing mahasiswa memperkuat iman dan taqwa kepada Allah SWT; mengantarkan mahasiswa mengembangkan akhlak mulia dan peka terhadap lingkungan-nya; membimbing mahasiswa me-ngembangkan penalaran yang baik, berpikir kritis, dan men-jadikan nilai-nilai Islam untuk mengenali berbagai masalah aktual dan memecahkannya; menghantarkan mahasiswa memiliki wawasan yang luas dan mengenali berbagai per-ubahan dimasyarakat serta mampu mengambil keputusan dan sikap secara bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam yang diyakininya; menghantarkan mahasiswa mampu berkomunikasi dengan baik, bersikap mandiri dan toleran dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis antar umat beragama; menghantarkan mahasiswa mampu bersikap rasional dan dinamis dalam rangka me-ngembangkan dan memanfaatkan IPTEKS sesuai dengan nilai-nilai Islam bagi kepen-tingan bangsa dan umat manusia.

F.            REFRENSI

Abdul Wahid. “Al-Qur’an dan Tafsir di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam” Vol. 8, No. 2 (Desember 2014).
Benny Afwadzi, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. “MEMBANGUN INTEGRASI ILMU-ILMU SOSIAL DAN HADIS NABI,” n.d.
Direktorat Jendral Pendidikan Islam. “Kajian Kurikulum Al-Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiyah,” n.d.
Fadhil al-Jamali. Menerabas Krisis Pendidikan Dunia Islam, 1992.
Fitroh. “Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Strategi Pencapaian,” n.d.
Manna Khalil Al Qattan, 1996.
Mochamad Enoh. “Pelajaran Geografi pada Kurikulum Berbasis Kompetensi,” Februari 2003.
Mukhtar Hadi. “AGAMA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI (Sebuah Pendekatan Multikultural),” n.d.
Nur Hidayat, dan Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. “NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SEJARAH PENURUNAN AL-QUR`AN SECARA BERTAHAP,” n.d.
Tasnim Idris dan Elva Mahyuni. “UPAYA GURU DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR AL QURAN HADITS DI MIN RUKOH DARUSSALAM BANDA ACEH” Volume 1, Nomor 1 (Juli 2013).





[1] Mukhtar Hadi, “Agama Di Tengah Arus Globalisasi (Sebuah Pendekatan Multikultural).”
[2] Ibid,.
[3] Ibid,.
[4] Manna Khalil Al Qattan, 1996:1.
[5] Nur Hidayat dan Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Sejarah Penurunan Al-Qur`An Secara Bertahap,” h. 2.
[6] Ibid., h. 4.
[7] Fadhil al-Jamali, Menerabas Krisis Pendidikan Dunia Islam.
[8] Tasnim Idris dan Elva Mahyuni, “Upaya Guru dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Al Quran Hadits di Min Rukoh Darussalam Banda Aceh,” Volume 01, No. 1.
[9] Abdul Wahid, “Al-Qur’an dan Tafsir di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam,” Vol. 8, No. 2.
[10] Benny Afwadzi dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, “Membangun Integrasi Ilmu-Ilmu Sosial dan Hadis Nabi,” h. 107.
[11] Mochamad Enoh, “Pelajaran Geografi pada Kurikulum Berbasis Kompetensi.”
[12] Mochamad Enoh, “Pelajaran Geografi pada Kurikulum Berbasis Kompetensi.”
[13] Fitroh, “Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Strategi Pencapaian.”
[14] Direktorat Jendral Pendidikan Islam, “Kajian Kurikulum Al-Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiyah.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARTIKEL JURNAL METOPEN "PENDEKATAN"

PPT Ilmu Kalam