ARTIKEL JURNAL METOPEN "PENDEKATAN"



PENDEKATAN


Retno Winahyu Kesumasari
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
E-mail: retnowinahyu30@gmail.com


Kegiatan dalam penelitian dilakukakan secara sadar, yang dilakukan oleh para peneliti untuk memecahkan suatu permasalahan ilmiah. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, pendekatan ilmiah itu pendekatan displiner dan pendekatan ilmu pengetahuan yang fungsional terhadap masalah tertentu. Dalam melakukan pendekatan pasti sebelumnya telah ada rencana atau pemikiran yang ada untuk melakuakan suaru tindakan yang akan di lakukan, yaitu pendekekatan ilmiah. Metode ilmiah di lakukan untuk mendapatakan pengetahuan. Pengetahuan tersebut biasa kita sebut dengan ilmu. Metode ilmiah dilakuakan sesuai prosedur penelitian, agar segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan apa yang ingin dicapai. Ilmu dapat didapat dengan cara mengikuti kajian-kajian yang sampaikan oleh seorang guru atau pendidik yang telah mengikuti pendidikan yang tinggi, seperti di sekolah.
Sekolah merupakan bagian utama dalam mengembangkan suatu karakter, sikap, kemampuan serta keterampilan seorang individu. Dengan bersekolah siswa dapat membenahi dirinya yang sebelumnya tidak mengetahui kemudian berusaha mencari tahu. Sehingga, terdapat perbedaan terhadap dirinya yang mengetahui ilmu dengan diri sebelumnya yang belum bersekolah sehingga yang dilakukan bukan atas dasar pendidikan. Dalam Sekolah terdapat aktivitas pembelajaran yang sudah tersusun secara berurut dan terstruktur yang diputuskan oleh pemerintah. Semua aspek yang ikut andil dalam pendidikan, contohnya kurikulum wajib mengikuti perintah yang telah di tentukan oleh pusat pemerintah.dengan itu harapannya peserta didik mampu berkembang dan berhasil dalam aktivitas pembelajaran dengan cara mengembangkan apa yang ada di dalam dirinya sudah menjadi potensi yang harus dikembangkan dan diolah.[1]
Pada masa modern sekarang ini ilmu pengetahuan merupakan faktor paling besar yang mempengaruhi munculnya kebutuhan-kebutuhan baru dan juga unsur-unsur kehidupan baru kepada apa tafsir-tafsir modern memberikan responnya. Didorong kenyataan tertindasnya kaum muslimin oleh kekuatan lain (khususnya Barat), para mufassir modern beranggaan bahwa kaum muslimin pada umumnya belum memahami spirit dan pesan dalam Al Qur’an secara sempurna. Mereka kurang bersentuhan dengan semangat ilmiah dan rasional seperti yang diimbau oleh teks-teks Al Qur’an sehingga dalam hal lapangan ilmu pengetahuan serta kebudayaan jauh tertinggal oleh Barat.[2]
Ilmu merupakan suatu yang penting dikuasai oleh umat manusia. Dengan ilmu, manusia akan dapat mengenal alam semesta dan bahkan menguasainya. Keberadaan ilmu dapat ditilik ke belakang bersamaan dengan kehidupan manusia yang digunakan untuk mensejahterakan kehidupan semua orang dalam masyarakat beradab. Perkembangan ilmu terus berjalan seiring dengan kebutuhan umat manusia dan banyaknya riset yang dilakukan. Dengan demikian, ilmu ini dapat mengantarkan manusia hidup yang lebih survive di dunia sesuai dengan konteksnya.[3]
Dalam upaya pengembangan kualitas pendidikan Islam di Indonesia senantiasa dihadapkan pada berbagai problematika. Sebagaimana diungkapkan Muhaimin (dalam Asrori) bahwa pendidikan di Indonesia dihadapkan pada 3 problematika antara lain; 1) masih rendahnya pemerataan pendidikan; 2) masih rendahnya mutu dan relevansi pendidikan; 3) masih lemahnya managemen pendidikan.13 Lebih lanjut, Hujair A. H. Sanaky menyebutkan bahwa Faktor-faktor yang menjadi penyebab lembaga pendidikan Islam terpinggirkan adalah faktor internal dan eksternal lembaganya. Faktor internal lembaga pendidikan islam diantaranya; manajemen pendidikan islam yang belum efektif dan berkualitas, kompensasi guru yang masih rendah, dan kepemimpinan yang belum profesional. Sedangkan faktor eksternalnya adalah adanya perlakuan diskriminatif pemerintah terhadap pendidikan Islam, paradigma birokrasi tentang pendidikan Islam selama ini lebih didominasi oleh pendekatan sektoral dan bukan pendekatan fungsional, dan adanya diskriminasi masyarakat terhadap pendidikan Islam.[4]
Sebelum membahas tentang pandangan dasar pendekatan ini, perlu dijelaskan batasan istilah tersebut. Pendekatan kuantitatif ialah pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya mempergunakan aspek pengukuran, perhitungan, rumus dan kepastian data numerik. Sebaliknya pendekatan kualitatif itu pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya mempergunakan aspek-aspek kecenderungan, non perhitungan numerik, situasional deskriptif, interview mendalam, analisis isi, bola salju dan story.[5] Keduanya memiliki perbedaan, perbedaan yang mencolok apa bila kuantitatif dilakukan dengan perhitungan rumus seperti matematika. Sedangkan kualitatif non perhitungan numerik, di dalamnya lebih dominan berisi diskripsi.[6]
Ketika melakukan pendekatan seorang peneliti harus memahami dahulu apa itu pendekatan ilmiah. Untuk mengetahui apa yang dimaksud pendekatan ilmiah seorang peneliti harus mengikuti proses pembelajaran. Pembelajaran itu suatu proses yang terjadi yang di dalamnya terdapat suatu kejadian mempengaruhi pembelajar atau peserta didik, bukan hanya dilakukan sebatas seorang guru dan siswa saja, tetapi mencangkup seluruh kejadian yang mungkin mempunyai pengaruh langsung dari pendidik dan peserta didik menghasil suatu ilmu atau pengatahuan yang memiliki manfaat untuk diri sendiri dan berpengaruh besar untuk orang lain.pembelajaran memiliki kaitan yang dekat dengan adanya pendidikan.” Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat urgen yang harus dipenuhi oleh seluruh umat manusia. Manusia hidup memiliki ilmu karena dengan ilmu yang dapat menyelamatkan manusia di kehidupan dunia dan akhirat. Dan dengan adanya pendidikan akan menjadikan umat manusia sebagai individu yang memiliki sopan santun, akhlak dan moral yang baik dan berketuhanan Yang Maha Esa. Hal tersebut menjadi sebuah orientasi yang utama bagi setiap bangsa dalam mengentaskan masyarakatnya dari keterbelakangan dalam setiap aspek kehidupan. Sehingga menumbuhkan berbagai inovasi dalam berbagai bidang pendidikan juga merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Salah satu bentuk pembaharuan di bidang pendidikan ialah Learning Revolution”.[7] Pembelajaran juga dapat diartikan suatu kegiatan untuk melakukan kajian yang memerlukan logia (fikiran) untuk mengolah informasi besarta informasi, hasil yang diperoleh dari mengikuti kajian-kajian keilmuan dalam pembelajaran.
Dalam kurikulum ada juga yang disebut pendekatan humanistik. Pendekatan humanistik, sebuah pendekatan pendidikan yang mengacu pada filosofis belajar humanisme. Yaitu pendidikan yang memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh domain yang ada (kognitif, afektif dan pskomotorik). Sehingga dalam proses pembelajarannya nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri siswa mendapat perhatian untuk dikembangkan.[8]
Penulis melakukan pencarian mengenai pendekatan melalui buku, serta jurnal-jurnal yang ada. Jenis-jenis Pendekatan memiliki banyak macam, sebelum ke penelitian langakah memilih pendekatan ini sebenarnya bisa lebih tepat ditempatkan setelah peneliti menentukan dengan tegas variabel penelitian. Secara singkat pendekatan penelitian dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung dari sudut pandangnya, walaupun sebenarnya antara jenis yang satu dengan jenis yang lain kadang-kadang saling over lapping.
Yang pertama, jenis pendekatan menurut teknik samplingnya ada pendekatan populasi, pendekatan sampel, pendekatan kasus. Kedua, jenis pendekatann menurut timbulnya variabel, pendekatan non-eksperimen dan pendekatan eksperimen. Keempat, jenis pendekatan menurut pola-pola atau sifat penelitian non eksperimen. Sehubungan dengan pendekatan jenis ini, maka dibedakan atas penelitian kasus (case-studies), penelitian kausal komparatif, penelitian korelasi, penelitian historis, dan penelitian filosofis. Tiga penelitian tersebut yang pertama, dinamakan juga penelitian dekkriptif. Kemudian yang keempat jenis pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan, a) “One-shot” model, yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada “satu saat”. b) Longitudinal model, yaitu mempelajari berbagai tingkat pertumbuhan dengan cara “mengikuti” perkembangan bagi individu-individu yang sama. c) Cross-sectional model, yaitu gabungan antara model a dan b, untuk memperoleh data yang lebih lengkap yang dilakukan dengan cepat, sekaligus dapat menggambarkan perkembangan individu selama dalam masa pertumbuhan karena mengalami subjek dari berbagai tingkat umur. Kelima, jenis pendekatan menurut desain atau rancangan penelitiannya (yang ini sebenarnya masuk dalam pendekatan eksperimen). Walaupun ada bebrapa jenis desain atau rancangan penelitian, namun secara garis besar ada tiga.[9] Banyak macam dari jenis pendekatan tersebut dapat dipilih tergantung pada seorang peneliti.
Banyak ahli ilmu sosial yang mempersoalkan penerapan metode pendekatan kuantitatif bagi ilmu-ilmu sosial. Bahkan tidak sedikit yang menganggap bahwa uji-uji statistik hanya menghasilkan angka, tetapi kehilangan makna karena lepasnya variabel yang menjadi fokus penelitian dari konteks sosiohistoris. Sebenarnya antara metode pendekatan kuantitatif dan kualitatif tidak perlu dipertentangkan, karena maing-masing mempunyai keunggulan yang apabila digabungkan akan memperkuat satu dengan yang lain.[10]
Secara umum, paradigma dalam Ilmu-ilmu Sosial bisa dikategorikan ke dalam 3 paradigma, yang masing-masing selain memiliki asumsi epistemology, ontology, dan aksiologi berbeda, juga memiliki perbedaan asumsi metodologi berbeda pula. Tiga paradigma tersebut adalah Positivism/Post-positivism, Interpretivism atau seringkali disebut Constructionism, dan Critical Theories (ataupun critical theories).[11]
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif. Pendekatan penelitian ini digunakan oleh para peneliti untuk menjawab peumusan masalah penelitian yang telah ditetapkan. Pendekatan yang digunakan ini disesuaikan dengan kebutuhan pencarian jawaban atas pertanyaan penelitian atau perumusan masalah. Artikel ini bertujuan mengkaji persoalan tentang pendekatan penelitian. Sebagaimana kita telah ketahui, bahwa penelitian merupakan suatu cara ilmiah yang digunakan oleh peneliti untuk dapat mendapatkan data dan tujuan tertentu. Mengapa dengan cara ilmiah, karena bahwa kegiatan penelitian tersebut terdapat asas keilmuan, yaitu dengan ciri rasional, empiris dan sistematis.[12]
Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi peristilahan para ahli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini, berikut akan dikemukakan penamaan yang dipakai para ahli dalam penyebutan kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam tabel 1 berikut ini :

Tabel 1
Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels[13]
Quantitative
Qualitative
Authors
Rasionallistic
Naturalistic
Guba &Lincoln (1982)

Inquiry from the Outside
Inquiry from the inside
Evered & Louis (1981)
functionalist
Interpretative
Burrel & Morgan (1979)

Positivist

Constructivist
Guba (1990)
Positivist
Naturalistic-ethnographic
Hoshmand (1989)
Sebagai lanjutan dari bagian sebelumnya, maka pada bagian ini bahasannya akan lebih difokuskan pada pembahasan tentang pendekatan kualitatif. Pendekatan ini sebagaimana diketahui dari banyak pembahasan sebelumnya, adalah merupakan salah satu saja dari dua pendekatan penelitian yang ada. Sebagai salah satu pendekatan, maka penelitian pendekatan kualitatif ini bertolak dari keyakinan pada data yang berbasiskan pada prinsip apostheriori. Selanjutnya, data yang yang berbasiskan pada prinsip apostheriori itupun, jika ditelusuri lebih jauh lagi, akan diketahui masih dibedakan pula oleh perbedaan-perbedaan prinsipil. Perbedaan mana, pada gilirannya tentunya berwujud pada perbedaan data apostheriori itu sendiri. Karena itu, pemahaman terhadap eksistensi prinsip-prinsip tadipun menjadi wajar harus diketahui dan dipahami. Salah satu perbedaan prinsip yang kiranya menjadi sangat vital perannya dalam proses penelitian, utamanya terkait proses pengumpulan data apostheriori tadi , yakni terkait dengan masalah paradigma penelitian. Terkait khusus dengan topik pendekatan penelitian kualitatif ini, maka untuk memudahkan pemahaman, secara umum menyangkut pendekatan dimaksud, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu 1) Penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma post positivistic; 2) Penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma non post positivistic. Penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma post positivistic, yaitu penelitian yang data apostheriori-nya diperoleh atau terwujud karena berbasiskan pada paradigma positivistik. Sementara penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma non post positivistic, data apostheriori-nya itu diperoleh atau terwujud karena berbasiskan pada paradigma non positivistik.[14]
 Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang utama adalah observasi partisipatif dan wawancara mendalam, ditambah kajian dokumen, yang bertujuan tidak hanya untuk menggali data, tetapi juga untuk mengungkap makna yang terkandung dalam latar penelitian. Dalam melakukan observasi partisipatif, peneliti berperan aktif dalam kegiatan di lapang, sehingga peneliti dengan mudah mengamati, karena berbaur dengan yang diteliti. Peneliti harus memiliki ide untuk melakukan penelitian Ilmiah, agar peneliti tidak menyamai penelitian orang lain. Penggunaan cheklist hanya sebagai pelengkap, utamanya adalah membuat catatan lapangan yang terdiri dari catatan deskriptif yang berisi gambaran tempat, orang dan kegiatannya, termasuk pembicaraan dan ekspresinya, serta catatan reflektif yang berisi pendapat, gagasan dan kesimpulan sementara peneliti beserta rencana berikutnya. Dalam wawancara mendalam sebaiknya digunakan wawancara terbuka yang dapat secara leluasa menggali data selengkap mungkin dan sedalam mungkin sehingga pemahaman peneliti terhadap fenomena yang ada sesuai dengan pemahaman para pelaku itu sendiri, jika perlu dibantu alat perekam.[15]

Referensi

Afifah, Nurul. “Pendekatan Humanistik dalam Pengembangan Kurikulum dan pembeklajaran Fiqih,”
n.d.
Ali Imran, Hasyim . Peneliti bidang studi komunikasi dan media pada BPPKI Jakarta Kemkominfo RI.
“Penelitian Komunikasi Pendekatan Kualitatif Berbasisi Teks” 19 (Juni 2015).
Musianto, Lukas S. “Perbedaan Pendekatan Kuantitatif dengan Pendekatan Kualitatif dalam Metode Penelitian,” Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, vol 4 (September 2002)
Mulyadi, Mohammad. “Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Serta Pemikiran Dasar Menggabungkannya.” Doktor Ilmu Sosial alumnus Universitas Padjadjaran, saat ini bekerja pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI Vol. 15 No. 1 (Juni 2011)
Rifa’i, Andi Arif. “Urgensi Berfikir Strategis dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia,” n.d.,
Rofiq Djaelani, Aunu. “Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif” VOL : XX, NO : 1 (Maret 2013)
Hidayat, Dedy N. “Dikotomi Kualitatif-Kuantitatif dan Varian Paradigma Kualitatif Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Indonesia Kampus Depok Jawa Barat 16424” 2 (Juli 2008)
Sanjaya, 2008.
Suharto, Eko. “Pedekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Metode Penelitian,” 60, Maret 2007, 51.
Suryadilaga, M. Alfatih. “Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Analisis Komparatif Islam dan Barat),”
Sudin, Mokhtaridi. “Spirit Pendidikan Dalam Al-Quran (Upaya Transformasinya Dalam Kehidupan Umat Di Era Global),” n.d.
Wahyudi, Dedi, dkk. “Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Konsep Learning Revolution” Volume 26 (2016)
Wahyudi, Dedi, dkk. “Studi Penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam,” mbelajaran… (Dedi Wahyudi & Tuti Alafiah, Vol. 8, No. 2 (n.d.): Desember 2016.













                                           


[1] Dedi Wahyudi dan Tuti Alafiah, “Studi Penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam,” pembelajaran… (Dedi Wahyudi & Tuti Alafiah, Vol. 8, No. 2 (n.d.): Desember 2016.
[2] Mokhtaridi Sudin, “Spirit Pendidikan Dalam Al-Quran (Upaya Transformasinya Dalam Kehidupan Umat Di Era Global),” n.d.
[3] M. Alfatih Suryadilaga, “Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Analisis Komparatif Islam dan Barat),” n.d., h. 5.
[4] Andi Arif Rifa’i, “Urgensi Berfikir Strategis dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia,” n.d., h. 5.
[5] Lukas S. Musianto, “Perbedaan Pendekatan Kuantitatif dengan Pendekatan Kualitatif dalam Metode Penelitian,” Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, vol 4 (September 2002): 25.
[6] Eko Suharto, “Pedekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Metode Penelitian,” 60, Maret 2007, 51.
[7] Dedi Wahyudi dan Habibatul Azizah, “Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Konsep Learning Revolution” Volume 26 (2016): 1–28.
[8] Nurul Afifah, “Pendekatan Humanistik dalam Pengembangan Kurikulum dan pembeklajaran Fiqih,” n.d., h. 2.
[9] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), h. 121
[10] Suharto, “Pedekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Metode Penelitian,” h. 51.
[11] Dedy N. Hidayat, “Dikotomi Kualitatif-Kuantitatif dan Varian Paradigma Kualitatif Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Indonesia Kampus Depok Jawa Barat 16424” 2 (Juli 2008): h. 85.
[12] Sanjaya, 2008, : 128.
[13] Mohammad Mulyadi, “Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Serta Pemikiran Dasar Menggabungkannya,” Doktor Ilmu Sosial alumnus Universitas Padjadjaran, saat ini bekerja pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI Vol. 15 No. 1 (Juni 2011): h. 130.
[14] Hasyim Ali Imran, Peneliti bidang studi komunikasi dan media pada BPPKI Jakarta Kemkominfo RI, “Penelitian Komunikasi Pendekatan Kualitatif Berbasisi Teks” 19 (Juni 2015): vol 19.
[15] Aunu Rofiq Djaelani, “Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif” VOL : XX, NO : 1 (Maret 2013): h. 82.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PPT Ilmu Kalam

JURNAL A' Qur'an dan Al Hadits